Sakramen Perkawinan


Dengan sakramen tobat orang diterima kembali sebagai anggota Gereja; atau, kalau dibebani oleh dosa kecil saja, ia semakin menyadari rahmat boleh ikut dalam perayaan Gereja. Sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dan dalam arti itu merupakan syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Hal itu langsung kentara, kalau membandingkan dua pasang suami-istri: yang satu sudah dibaptis sebelum menjadi suami istri, yang lain sudah berkeluarga waktu menerima sakramen pembaptisan. Orang yang sudah berkeluarga waktu dibaptis, tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi; orang yang belum berkeluarga ketika dibaptis, perlu menerima sakramen perkawinan.

Perkawinan menurut Kitab Suci

Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. Dalam kitab Kejadian dikatakan: “Seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Orang meninggalkan masa hidupnya sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri. Hidup itu tidak berarti hidup dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (dalam bahasa Ibrani “daging” berarti makhluk, khususnya manusia). Dengan demikian mau diungkapkan kesatuan dalam perkawinan atau “monogami” (sebagaimana dengan jelas diungkapkan dalam Im 18:18). Itulah arti yang oleh Yesus diberikan kepada ayat ini dalam Mat 19:5 dan Mrk 10:7-8:

“Laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “kontrak” atau janji saja. Suami-istri sungguh satu manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suaminya. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan meliputi hidup seluruhnya, jiwa dan badan. Oleh karena itu kesatuan suami-istri juga menyangkut iman mereka. Di hadapan Allah dan dalam persatuan dengan Kristus mereka itu satu. Maka hubungan dengan Kristus yang pernah diikat dalam pembaptisan sebelum nikah, lain daripada persatuan dengan Kristus sebagai suami-istri. Hubungan dengan Kristus sebagai bujang atau gadis tidak memadai lagi dan harus diganti dengan persatuan dengan Kristus selaku suami-istri.

Mereka yang dibaptis sebagai suami-istri langsung berhubungan dengan Kristus sebagai suami-istri. Maka mereka tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi. Mereka sudah menikah waktu dibaptis. Mereka dari semula menjadi anggota Gereja sebagai orang berkeluarga. Sebaliknya mereka yang pernah menjadi anggota sebagai anak atau sebagai pemuda dan pemudi harus “memperbarui” keanggotaan mereka dan menjadi anggota yang berkeluarga. Hal itu terjadi dengan sakramen perkawinan. Maka sakramen perkawinan juga menyangkut keanggotaan Gereja.

Tetapi janganlah sakramen perkawinan dianggap suatu formalitas saja guna membereskan “KTP gerejawi”, Surat Efesus menyebutnya “misteri agung”. Itulah penafsiran berhubungan dengan Kej 2:24, yang telah dikutip di atas.

“Karena itu laki-laki harus meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya. Dan keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar; aku memaksudkannya berhubung dengan Kristus dan jemaat” (Ef 5:31-32).

Sesudah kutipan Kej 2:24 dikatakan “Rahasia itu besar”, yang juga dapat diterjemahkan: Itu misteri agung. Kata “misteri”, khususnya dalam surat Efesus, berarti rencana keselamatan Allah, yang lama tersembunyi tetapi sekarang dinyatakan melalui Gereja (Ef 1:9; 3:3.9; 6:19). Kesatuan suami-istri termasuk misteri Allah itu. Kesatuan mereka mempunyai dasar dalam rencana Allah. Menurut ay. 32 rencana itu baru menjadi jelas dengan sepenuhnya, kalau dikaitkan dengan hubungan Kristus dan Gereja. Kesatuan suami-istri bukan hanya luhur dan mulia, tetapi bersifat ilahi, karena dikehendaki oleh Allah dan menunjuk kepada kesatuan Kristus dengan Gereja. Jelas sekali bahwa pengarang memakai bahasa kiasan, dan berbicara mengenai makna terdalam pernikahan. Ia tidak berbicara mengenai suatu upacara sakramental.

Namun tidak salah pula, kalau ajaran surat Efesus dihubungkan dengan sakramen perkawinan, sebab oleh kesatuan dengan Kristus hubungan suami-istri termasuk “misteri’ Allah. Artinya, karena kesatuan dengan Kristus karya Allah dinyatakan dan dilaksanakan dalam perkawinan. Sama seperti sakramen tobat begitu juga untuk sakramen perkawinan tidak ditentukan upacaranya dalam Kitab Suci. Bahkan mengenai inti perkawinan serta sifat sakramentalnya, jarang disebut. Tetapi dalam Ef 5:11-33 ditunjukkan bahwa cinta Kristus kepada Gereja-Nya merupakan dasar yang sesungguhnya bagi kesatuan suami-istri yang telah dibaptis. Cinta perkawinan mereka mengambil bagian dalam cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dengan demikian ditunjukkan yang paling pokok dalam setiap sakramen yaitu arti keselamatannya. Suami-istri dalam kesatuan dengan Kristus diselamatkan oleh cinta perkawinan mereka sendiri.

Perkembangan Upacara Sakramen Perkawinan

Selama kurang lebih seribu tahun Gereja tidak mempunyai pandangan lain dari yang terungkap dalam surat Efesus. Perkawinan orang Kristen terjadi dengan cara yang lazim dalam masyarakat. Tidak ada upacara khusus. Perkawinan sipil atau dalam kampung dan keluarga diakui oleh Gereja. Ada banyak nasihat dan petuah, tetapi tidak ada upacara khusus. Paling-paling diminta berkat dari Gereja.

Perkawinan itu urusan pemerintah atau masyarakat, yang diberi doa restu oleh Gereja. Baru ketika urusan pemerintah di Eropa Barat agak kacau, Gereja menjadi lebih aktif dalam mengatur perkawinan. Ini terjadi sekitar abad ke-12. Pada waktu itu juga dikembangkan pikiran mengenai sifat sakramental perkawinan. Baru pada tahun 1274, pada Konsili di Florence, untuk pertama kalinya dengan jelas perkawinan disebut di antara sakramen-sakramen Gereja. Maka tidak mengherankan bahwa sejak Reformasi di kalangan Protestan perkawinan tidak diakui sebagai sakramen. Bukan hanya karena di dalam Kitab Suci tidak ada petunjuk yang jelas, tetapi juga karena dalam kehidupan Gereja sendiri berabad-abad lamanya tidak diketahui bahwa ada sakramen perkawinan. Perkawinan dipandang sebagai soal kemasyarakatan saja, oleh karena itu bersifat profan dan tidak sakral. Tetapi hal itu sebetulnya kurang sesuai dengan ajaran surat Efesus. Biarpun tidak dikenal suatu upacara khusus, tidak berarti bahwa tidak ada kesadaran mengenai arti rohani, bahkan ilahi, perkawinan.

Melalui cinta perkawinan, rahmat Allah diberikan kepada suami-istri dan anak-anak mereka. Sifat sakramental perkawinan tidak terbatas pada upacara saja, melainkan menyangkut hidup berkeluarga seluruhnya. Karena kesatuan suami-istri dengan Kristus, seluruh hidup mereka – yang adalah satu – menjadi perwujudan rahmat. Tanda rahmat ini ialah janji perkawinan, yang mengikat mereka untuk sehidup semati. Justru karena perkawinan itu semacam “peneguhan” pembaptisan, maka janji itu tidak hanya mengungkapkan kesetiaan mereka satu sama lain, tetapi juga terhadap Kristus.

Perkawinan juga “sakramen iman”, di dalamnya dinyatakan iman akan kasih Kristus sebagai dasar dan kekuatan ikatan perkawinan. Barangkali boleh dikatakan, bahwa bagi orang yang dibaptis waktu masih bayi atau anak, janji baptis menjadi lebih nyata dalam janji perkawinan, yang diucapkan di muka Gereja, yang diwakili oleh imam. Perkawinan dan keluarga menjadi tempat pengungkapan iman. Itulah sebabnya Konsili Vatikan II berani berbicara mengenai “Gereja-keluarga” (LG 11). Perkawinan dan hidup keluarga sendiri bagi umat beriman menjadi sarana mengungkapkan imannya dan dengan demikian juga menghayatinya. Keistimewaan sakramen perkawinan tidak terletak dalam bentuk upacaranya, tetapi dalam pengungkapan iman itu.

Sebagai upacara ditetapkan dalam buku Upacara Perkawinan tahun 1976: “Pria dan wanita menyatakan saling menyerahkan diri secara bebas, seutuhnya dan untuk selama-lamanya”. Janji nikah adalah bentuk sakramen perkawinan di muka Gereja. Dan ditegaskan lagi: “Justru kesatuan dalam cinta setia yang diangkat oleh Kristus menjadi martabat sakramen”. Pada dasarnya upacara perkawinan orang beriman tidak berbeda secara prinsipial dari upacara perkawinan umum. Tetapi bentuk yang umum itu menjadi sarana pengungkapan iman bagi orang yang percaya akan Kristus. Sama seperti bagi orang lain, begitu juga bagi orang beriman “cinta perkawinan diarahkan kepada penyempurnaan suami-istri secara menyeluruh, termasuk pula kelahiran dan pendidikan anak demi kebahagiaan keluarga dan kesejahteraan masyarakat”. Bagi orang beriman semua itu mendapat kesempurnaan dalam perkembangan hidup bersatu dengan Kristus, baik untuk suami-istri sendiri, maupun untuk anak-anak mereka.

Perkawinan Campur

Apa yang terjadi kalau orang Katolik menikah dengan pihak lain yang bukan Katolik? Kalau pihak lain itu sudah dibaptis, perkawinan mereka tetap merupakan sakramen karena kedua orang itu satu iman dalam Kristus (KHK kan. 1055). Gereja menegaskan bahwa perkawinan itu pun tidak dapat diceraikan (KHK kan. 1061, 1141). Hanya saja, karena salah satu pasangan belum bersatu penuh dengan Gereja Katolik, biasanya perkawinan itu tidak diteguhkan dalam perayaan ekaristi (meski dalam hal ini tidak ada peraturan atau ketetapan yang mutlak dan umum).

Lain halnya kalau pihak yang lain belum dibaptis. Dengan izin khusus dari pimpinan Gereja, perkawinan itu dimungkinkan. Namun demikian, karena tidak sepenuhnya dilakukan dalam lingkup Gereja, sulit ditentukan nilai gerejawi perkawinan itu. Kiranya perkawinan seperti itu tidak merupakan sakramen, karena tidak ada kesatuan iman. Akan tetapi, karena pihak yang Katolik bersatu dengan Kristus dan pihak yang lain umumnya juga percaya kepada Allah, perkawinan ini pun pasti tidak di luar rencana Allah. Bagaimana persisnya semua itu terjadi, hanya Allah yang tahu.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s