Tiga Tahap Inisiasi Kristen


Menjadi orang Kristen merupakan suatu proses, tahap demi tahap. Langkah pertama ialah katekumenat, yakni masa persiapan dengan pelajaran-pelajaran dan upacara-upacara kecil yang bersifat sakramentali. Pada zaman dahulu para katekumen tidak diperbolehkan ikut perayaan Ekaristi. Baru sesudah dibaptis mereka boleh ikut perayaan Ekaristi. Maka pembaptisan pun dipandang sebagai suatu langkah yang amat penting dalam proses inisiasi itu. Sesudah pembaptisan mereka dihadapkan pada bapa uskup, yang meletakkan tangan atas mereka dan mengurapi mereka. Karena mereka diurapi dengan krisma, yakni “minyak zaitun atau minyak lain yang diperas dari tetumbuhan” (KHK kan. 847), upacara ini kemudian disebut “krisma”. Sesudah itu mereka baru diperbolehkan mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, yang dipandang sebagai langkah terakhir dalam proses inisiasi itu.

Dengan demikian ada tiga sakramen dalam proses menjadi orang Kristen, yakni Pembaptisan, Krisma dan Ekaristi, yang karenanya disebut “sakramen-sakramen inisiasi”. Dalam arti yang sesungguhnya Ekaristi tidak termasuk inisiasi, selain bila diikuti untuk pertama kalinya. Bila selanjutnya orang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi lagi, itu sudah bukan “inisiasi” lagi, sebab Ekaristi adalah tujuan dan sekaligus langkah terakhir dari seluruh proses inisiasi Kristen.

Dalam perkembangan lebih lanjut ketiga sakramen inisiasi dipisahkan satu dari yang lain. Banyak orang dibaptis beberapa hari sesudah lahir (baptis bayi). Sakramen Krisma baru diterima bila sudah menjadi remaja. Pada waktu itu orang biasanya sudah menerima “komuni pertama” dan telah lama ikut perayaan Ekaristi. Dengan demikian bukan hanya urut-urutannya diubah, tetapi juga sudah tidak terasa adanya hubungan antara ketiga sakramen itu. Dan karena orang sudah diterima ke dalam Gereja sebagai seorang bayi, maka Ekaristi dan Krisma, tidak lagi dialami sebagai “sakramen inisiasi”.

Tata cara perayaan inisiasi Kristen sekarang ditetapkan dalam buku resmi liturgi “Inisiasi Kristen” untuk Gereja Indonesia dari tahun 1977, sebagai berikut:

“Inisiasi Kristen mengikuti suatu pola yang kurang lebih sama, di mana dapat dibedakan tahap-tahap berikut:
Tahap 1 : Dari “simpatisan” menjadi “katekumen”;
Tahap 2 : Dari “katekumen” menjadi “calon baptis”;
Tahap 3 : Dari “calon baptis” menjadi “baptisan baru”.
Maka hampir dengan sendirinya inisiasi Kristen mendapat susunan sebagai berikut:
(a) Masa pra-katekumenat untuk para simpatisan.

(1) Tahap pertama: Upacara pelantikan menjadi katekumen.

(b) Masa katekumenat untuk para katekumen.

(2) Tahap kedua: Upacara pemilihan sebagai calon baptis.

(c) Masa persiapan terakhir untuk para calon baptis yang terpilih.

(3) Tahap ketiga: Upacara sakramen-sakramen inisiasi.

(d) Masa pendalaman iman (mistagogi) untuk para baptisan baru.”

Selanjutnya diberikan keterangan sebagai berikut:

“Tahap pertama ialah, bila seorang simpatisan sungguh mulai bertobat dan beriman, sehingga ia dapat diterima oleh umat setempat dalam katekumenat. Dalam suatu upacara ia dilantik menjadi katekumen.

Tahap kedua ialah, bila iman seorang katekumen sudah berkembang sedemikian, sehingga ia diizinkan menyiapkan diri akan sakramen-sakramen inisiasi.

Tahap ketiga ialah, bila persiapan terakhir sudah selesai dan calon itu diperkenankan menerima sakramen-sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi pertama), sehingga ia menjadi anggota penuh dalam Gereja.”

Khususnya mengenai “sakramen-sakramen inisiasi” dikatakan:

“Perayaan sakramen-sakramen inisiasi merupakan tahap ketiga dan terakhir dalam proses inisiasi Kristen. Dalam sakramen-sakramen itu para “pilihan” diikutsertakan dalam misteri Paska Kristus, mereka mati terhadap dosa, sehingga manusia lama dikuburkan, dan mereka bangkit bersama Kristus sebagai manusia baru, dilahirkan kembali dan diangkat sebagai anak Allah. Mereka dilengkapi dengan kekuatan Roh Kudus dan digabungkan pada umat beriman yang bersama-sama menuju kerajaan Allah yang abadi.”

Ulasan di bawah ini akan terbatas pada “tahap ketiga”, ialah sakramen-sakramen inisiasi sendiri. “Ekaristi pertama” hanya berarti bahwa “baptisan baru” untuk pertama kalinya boleh ikut serta dengan perayaan Ekaristi, tidak merupakan suatu sakramen atau upacara tersendiri. Maka yang akan dibicarakan hanyalah kedua sakramen inisiasi yang lain, yakni Pembaptisan dan Krisma.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s