Perjamuan Terakhir


Kisah perjamuan terakhir, yang terdapat dalam injil sinoptik (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-20) dan pada Paulus (1Kor 11:23-25), sebenarnya amat singkat dan tidak persis sama. Walaupun pada dasarnya sama, ada perbedaan perumusan antara Matius-Markus pada satu pihak dan Lukas-Paulus pada pihak yang lain. Sudah tidak diketahui lagi apa yang sesungguhnya dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Kata-kata yang sekarang dipakai dalam Doa Syukur Agung merupakan rumusan yang dibuat atas dasar empat kisah itu, tetapi tidak terjamin keasliannya. Namun demikian, semua kisah mempunyai sepuluh unsur ini: >

  1. Yesus mengambil roti.
  2. Yesus mengucap doa syukur.
  3. Yesus memecahkan roti dan memberikannya kepada para murid.
  4. Waktu membagikan roti itu Yesus bersabda: Inilah tubuh-Ku.
  5. Sesudah perjamuan Yesus mengambil piala.
  6. Yesus mengucap syukur lagi.
  7. Piala diberikan kepada para rasul, dan mereka minum dari padanya.
  8. Waktu mengedarkan piala, Yesus bersabda: Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku.
  9. Yesus memberi perintah pengenangan.
  10. Sesudah itu Yesus masih berbicara mengenai Kerajaan Allah.

Betapapun terbatas informasi yang dapat diperoleh dari kisah-kisah ini, jelas bahwa semua ini sesuai dengan perjamuan Yahudi. Doa syukur yang disebut sebelum makan (no. 2) dan sesudahnya (no. 6) adalah doa sebelum dan sesudah makan yang dibawakan oleh pemimpin perjamuan, biasanya bapa keluarga. Para peserta perjamuan menjawab “amin”, lalu makan roti yang dibagikan sebelum perjamuan (no. 3) dan minum dari piala sesudahnya (no. 7). Perlu diperhatikan bahwa pembagian roti terjadi sebelum makan, dan oleh karena itu tidak termasuk perjamuan sendiri. Makan roti dan minum dari piala termasuk doa. Dengan menjawab “amin” dan kemudian makan roti serta minum dari piala, orang mengambil bagian dalam doa yang oleh pemimpin diucapkan atas roti dan anggur.

Doa sebelum makan biasanya pendek, sedangkan doa sesudah makan, yang disebut birkat ha-mazon, cukup panjang dan dapat bervariasi menurut pesta yang dirayakan. Doa itu dirumuskan dengan bebas oleh yang membawakannya. Kita tidak tahu bagaimana doa syukur Yesus; barangkali serupa dengan doa yang biasanya didoakan oleh orang Yahudi, sebab semua memang sesuai dengan adat-istiadat orang Yahudi (termasuk perjamuan sendiri, yang dalam Perjanjian Baru hanya disebut sepintas, no. 5). Yang sangat istimewa ialah sabda Yesus yang diucapkan waktu membagikan roti (no. 4) dan piala (no. 8), sebab biasanya roti dan anggur dibagikan dengan diam-diam, sebagai bagian doa. Sabda Yesus itu tidak tepat sama rumusannya dalam keempat kisah.

Pada kata “Inilah tubuh-Ku” oleh Lukas ditambahkan “yang diserahkan untuk kamu”, sedangkan Paulus menyebutkan: “Tubuh-Ku, yang untukmu”. Kiranya perbedaan ini tidak sepenting seperti dalam sabda atas piala. Kata “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, hanya terdapat pada Paulus dan Lukas (yang terakhir itu masih menambahkan: “yang ditumpahkan untuk kamu”). Tetapi teks Markus berbunyi (dan Matius tidak banyak berbeda): “Inilah darah-Ku Parjanjian, yang ditumpahkan untuk orang banyak” (Matius masih menambahkan: “demi pengampunan dosa”). Banyak ahli lebih cenderung ke arah teks Lukas-Paulus, karena dua alasan: 1. Teks Markus atas piala sangat mirip dengan sabda atas roti, mungkin disesuaikan; 2. rumus Markus sangat aneh: “darah-Ku perjanjian”, yang mungkin dirumuskan dengan latar belakang Kel 24:8: “Inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu”. Bagaimanapun juga, dari naskah Injil tidak dapat ditentukan dengan pasti, mana sabda Yesus yang asli.

Perintah pengenangan, yang hanya terdapat pada Lukas-Paulus, juga menyimpang dari kebiasaan Yahudi. Begitu juga sabda eskatologis mengenai Kerajaan Allah, tentu sangat khusus untuk situasi Yesus. Maka kemiripan dengan perjamuan Yahudi tidak berarti bahwa Yesus hanya mengadakan perjamuan Yahudi yang biasa. Ada banyak unsur yang sangat istimewa, dan justru itulah yang paling penting untuk perayaan Ekaristi. Namun sabda Yesus itu hanya dapat dimengerti dengan sepenuhnya, kalau ditempatkan dalam kerangka perjamuan Yahudi itu.

Dalam Injil sinoptik (Mat 26:17-19/Mrk 14:12-16/Luk 22:9-13) diceritakan bagaimana para murid mempersiapkan perjamuan Paska. Atas dasar itu biasanya ditarik kesimpulan, bahwa Perjamuan Terakhir berupa perjamuan Paska. Namun dalam Yoh 19:14 dikatakan bahwa Pilatus menghukum Yesus pada “hari persiapan Paska”. Orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam rumah Pilatus (seorang kafir yang najis dalam pandangan mereka), “supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paska” (Yoh 18:28). Maka timbul pertanyaan, bagaimana mungkin Yesus sudah makan perjamuan Paska sebelum itu? Atas pertanyaan itu pun tidak ada jawaban yang jelas. Dan tidak dapat dikatakan dengan pasti, apakah Perjamuan Terakhir adalah perjamuan Paska. Bagaimanapun juga, dalam kisah Perjamuan Terakhir sendiri domba Paska atau upacara pesta itu, tidak disebut-sebut. Atas dasar itu tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa Perjamuan Terakhir bukan perjamuan Paska. Yang jelas, Yesus sendiri atau para pengarang Injil tidak menghubungkan Perjamuan Terakhir (dan Ekaristi) dengan Paska Yahudi. Yesus tidak mengidentifikasikan diri dengan domba Paska (itu baru dibuat oleh Paulus dalam 1Kor 5:7, tetapi secara kiasan).

Yang paling penting tentu sabda Yesus waktu membagikan roti dan anggur. Beberapa hal perlu diperhatikan. Pertama roti dan anggur itu berfungsi sebagai alat penghubung antara para hadirin yang makan dan minum, dan dia yang membawakan doa syukur (dan dengan demikian dengan doa syukur itu sendiri). Dengan kata lain, sabda Yesus atas roti (dan atas piala) tidak tertuju kepada roti, tetapi kepada orang yang menerimanya. Sabda “Inilah tubuh-Ku” dikatakan mengenai roti, yang sedang diberikan. Selain itu “tubuh-ku” dalam bahasa Aram (bahasa ibu Yesus) berarti “aku” (serupa dengan bahasa Jawa “awak-ku”).

Maka dengan memberikan roti Ia memberikan diri sendiri kepada para rasul. Sama halnya dengan piala. Dengan sabda “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, Yesus mau mengatakan bahwa dengan minum dari piala ini para rasul masuk ke dalam Perjanjian Baru dengan Allah, yang didasarkan pada penumpahan darah Yesus. Sabda Yesus juga tidak pertama-tama ditujukan kepada piala (atau anggur di dalamnya), melainkan kepada mereka yang minum dari padanya. Dengan sabda atas roti dan anggur Yesus mengungkapkan suatu hubungan pribadi yang sangat istimewa.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s