Menghayati Sakramen Mahakudus


Dari ajaran Konsili Vatikan II jelaslah bahwa penghayatan Ekaristi tidak sama dengan menyambut komuni atau menghormati Yesus dalam tabernakel. Yang pokok adalah mengambil bagian dalam perayaan. Komuni berarti ikut serta secara sakramental (artinya melalui “tanda dan sarana”) dengan Doa Syukur Agung, yang mengungkapkan iman Gereja akan wafat dan kebangkitan Kristus. Maka dari umat pertama-tama diharapkan sikap iman yang sama.

Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, terutama merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan sesama. Ekaristi berarti suatu pertemuan pribadi – dalam iman – dengan Kristus. St. Paulus menulis, “Bukankah piala ucapan syukur, yang di atasnya kita ucapkan syukur, berarti persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan berarti persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Ekaristi berarti “persekutuan dengan Kristus”. Dan memang, kita “dipanggil kepada persekutuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita” (1Kor 1:9). Hal itu berarti pertama-tama “persekutuan Roh Kudus” (2Kor 13:13), sebab kesatuan dengan Kristus berarti “persekutuan iman” (Flm 6). Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja. Sakramen itu “sakramen iman”, dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Kristus yang – karena iman – hadir dalam seluruh umat.

Dari pihak lain, tradisi Gereja juga tidak mau membatasi kebaktian kepada sakramen mahakudus pada perayaan liturgis saja. Ada perarakan, pentakhtaan sakramen mahakudus, kunjungan di muka tabernakel, pujian dan berkat meriah.

“Komuni orang sakit” tidak termasuk devosi-devosi, sebab dengan jalan menyambut komuni orang sakit, yang terhalang mengikuti perayaan, toh diberi kesempatan ikut serta dalam perayaan itu. Maka perlu diperhatikan bahwa komuni orang sakit tidak dapat dilepaskan dari perayaan Ekaristi sendiri.

“Komuni di stasi” serupa dengan itu, sebab di situ pun ada orang yang terhalang mengambil bagian dalam perayaan bersama di gereja pusat. Oleh karenanya, perlu diingat bahwa sesungguhnya orang itu mengambil bagian dalam perayaan, di mana hosti-hosti itu dikonsekrasi. Khususnya untuk komuni di dalam gereja biasa, perlu diingat ketetapan Pedoman Umum Buku Misa (no. 56h), “agar umat menyambut Tubuh Tuhan dari hosti-hosti yang diberkati dalam misa yang sedang dirayakan itu”. Kalau pada hari Minggu diberkati hosti-hosti untuk seluruh minggu, itu kurang menghormati sakramen mahakudus.

Apa yang dikatakan oleh Konsili Vatikan II mengenai devosi-devosi pada umumnya, berlaku terutama untuk devosi-devosi ekaristis: “ulah kesalehan itu perlu diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan liturgi suci, sedikit banyak bersumber padanya dan menghantar umat kepada liturgi; sebab menurut hakikatnya liturgi memang jauh lebih unggul dari semua ulah kesalehan itu” (SC 13). Kalau demikian, mengapa “hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut serta dalam liturgi” (SC 12)? Karena liturgi menurut hakikatnya berupa perayaan bersama. Bisa terjadi penghayatan pribadi tidak mendapat perhatian secukupnya. Padahal, Ekaristi (dan liturgi pada umumnya) tidak mungkin menjadi pengungkapan iman tanpa penghayatan iman secara pribadi. Oleh sebab itu devosi-devosi dimaksudkan untuk menunjang dan memperkuat semangat iman, demi perayaan bersama yang resmi dan gerejawi.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s