Tritunggal dan Agama-Agama Lain


Trimurti dalam agama Hindu, yaitu penjelmaan Brahman dalam tiga dewa, Brahma, Siva dan Vishnu, kadang-kadang dibandingkan dengan Tritunggal. Kiranya itu tidak tepat, pertama-tama karena Trimurti bukanlah suatu rumusan dogmatis dari sejarah keselamatan. Terutama Trimurti sesungguhnya bukan Brahman (bukan Allah), tetapi penampakannya saja. Maka di sini ada sesuatu yang bisa dibandingkan, bukan dengan Tritunggal, melainkan dengan aneka bentuk modalisme. Selain itu hubungan antara ketiga dewa itu tidak berkaitan dengan karya atau sejarah keselamatan, melainkan masing-masing merupakan penampakan Brahman sendiri, tanpa hubungan jelas satu dengan yang lain. Khususnya antara Siva dan Vishnu tidak ada hubungan langsung. Sesungguhnya harus dikatakan bahwa keserupaan antara Trimurti dan Tritunggal tidak lebih daripada rumus “tri” yang terdapat dalam kedua kata itu. Kecuali itu harus diingat bahwa ajaran agama Hindu mengenai Trimurti berbeda-beda.

Agama Islam menolak mentah-mentah segala pikiran mengenai Allah Tritunggal. Ditolak bahwa Allah mempunyai Anak, dan lebih lagi bahwa ada lebih dari satu pribadi dalam Allah. Penolakan ini terdapat dalam Al-Qur’an sendiri, dan berkaitan dengan pokok iman agama Islam akan Tawhid, Allah wahid wa-ahad (Allah itu esa dan tunggal), yang berarti pula bahwa Allah terpisah total dari segala makhluk. Sejak zaman nabi Muhammad sampai hari ini, ajaran mengenai Tritunggal tetap merupakan titik perselisihan yang pokok antara kaum muslimin dan orang Kristen. Walaupun semula orang Islam hanya mengenal Tritunggal melalui rumusan populer, lama kelamaan mereka mulai memperhatikan latar belakang rumusan Konsili-konsili. Kendati demikian, diskusi sering kali tetap berpusat pada rumus saja, tanpa masuk ke dalam pokok persoalan. Padahal, sejauh ajaran mengenai Tritunggal mau merumuskan hubungan Allah dengan manusia, secara langsung menyangkut soal wahyu, dan mempunyai arti bagi kaum muslimin juga. Kiranya pokok persoalan terletak dalam “pengantara” antara Allah dan manusia. Agama Islam melihat Al-Qur’an sebagai pengantara itu, sedangkan bagi orang Kristen “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s