Penampakan Yesus Kristus telah Bangkit


Sama seperti dalam hal wafat Yesus, begitu juga dalam kebangkitan-Nya harus dibedakan antara fakta dan arti fakta itu bagi kita. Fakta kebangkitan lain sama sekali daripada fakta wafat Yesus. Tidak ada orang yang melihat kebangkitan Yesus. Yang dilihat adalah penampakan dan juga makam kosong. Tetapi dalam penampakan dilihat Yesus yang sudah bangkit, sudah dimuliakan. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang mulia, yang – karena kemuliaan-Nya – sebetulnya tidak bisa dilihat oleh manusia yang fana. Maka penampakan tidak berarti bahwa mereka melihat Yesus kembali seperti yang mereka lihat dahulu, waktu Yesus masih bergaul bersama mereka. Sekarang dengan pertolongan rahmat Allah, mereka boleh menyadari kehadiran Kristus, yang sebetulnya sudah tidak dapat dilihat. Menurut Paulus (1Kor 15:5-8), banyak orang mengalami perjumpaan dengan Yesus yang mulia. Bukan hanya Petrus, Paulus, dan Yakobus, melainkan kelompok dua belas dan semua rasul, bahkan “lebih dari lima ratus saudara”, yang kebanyakan masih hidup pada zaman Paulus dan dapat dimintai keterangan. Injil-Injil masih menyebut sejumlah orang yang lain, khususnya wanita, yang juga memberi kesaksian bahwa mereka “telah melihat Tuhan” (Yoh 21:18).

Pengalaman mereka yang dengan jelas diceritakan dalam Kitab Suci, diartikan secara berbeda-beda selama peredaran zaman. Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak sungguh mati (dan oleh karena itu juga tidak sungguh bangkit). Orang lain berpendapat bahwa kisah kebangkitan tidak lain daripada sebuah dongeng, serupa dengan dongeng-dongeng lain yang beredar dalam masyarakat zaman itu. Masih ada orang yang berpendapat bahwa pengalaman para murid merupakan halusinasi (khayalan) atau setidak-tidaknya sesuatu yang subjektif melulu, keluar dari pikiran dan perasaan mereka sendiri. Yang pantas diperhatikan sebetulnya hanya pandangan yang terakhir, mengenai pengalaman subjektif; yang lain tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pendapat pertama berasal dari teologi liberal abad ke-18 dan ke-19. Mereka tidak mau mengakui adanya mukjizat. Karena kebangkitan Kristus dikatakan mukjizat yang paling besar, maka tidak ada jalan lain kecuali menyangkal kebangkitan. Untuk mendasari pendapat itu disangkal pula wafat Yesus: Yesus tidak sungguh mati, Ia hanya tidak sadarkan diri. Dalam makam yang sejuk Ia menjadi sadar kembali dan bangkit. Teori ini terang berlawanan dengan seluruh kesaksian Kitab Suci mengenai wafat Yesus dan oleh karena itu dewasa ini tidak diperhatikan secara serius lagi. Teori ini sebenarnya hanya “dongeng” yang berlagak ilmiah.

Sama halnya dengan teori kedua mengenai mitos dewa yang mati dan bangkit. Teori ini berasal dari aliran perbandingan agama dari zaman yang sama. Teori ini pun tidak diterima lagi, karena tidak ada bukti. Hanya teori saja, tanpa dasar fakta sejarah, Tambahan lagi, kisah kebangkitan dalam Kitab Suci sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri mitologis.

Teori halusinasi sudah dikemukakan pada abad ke-2 (oleh Celsus), dan dihidupkan kembali pada abad ke-19 (oleh teolog liberal D.F. Strauss). Zaman sekarang pun masih ada orang yang – dalam bentuk yang lebih halus – memberikan keterangan yang sama. Pengalaman para murid mau diterangkan secara psikologis, khususnya berdasarkan kekecewaan mereka karena wafat Yesus. Tetapi dengan demikian justru tidak diterangkan arti teologis pengalaman para murid, yang melihat wafat Yesus sebagai hukuman Allah. Mengingat para murid itu orang Yahudi yang saleh, sebuah keterangan psikologis melulu amat tidak masuk akal. Dalam pandangan mereka wafat Yesus berarti bahwa Yesus ditolak oleh Allah. Maka mengatakan bahwa Yesus hidup (karena alasan apapun), sedangkan Allah dengan jelas menyatakan Dia mati, berarti menghujat Allah. Kalaupun benar bahwa para murid kecewa dengan kematian Yesus dan dalam hati kecil mungkin mengharapkan Dia hidup, namun mereka tidak akan pernah berani melawan Allah yang – menurut anggapan Yahudi mereka – dengan jelas menolak dan mengutuk Yesus. Teori ini pun tidak mempunyai dasar sedikit pun dalam teks Kitab Suci. Sebaliknya kisah kebangkitan memperlihatkan bahwa semula para murid sendiri tidak dapat percaya bahwa Yesus, yang mereka anggap ditolak oleh Allah, ternyata diterima dan dimuliakan oleh Allah. Pengalaman ini seluruhnya bertolak belakang dengan pengharapan Yahudi mereka.

Pandangan yang melihat penampakan sebagai pengalaman subjektif para murid, pantas diberi perhatian lebih khusus. Memang benar bahwa kebangkitan Kristus hanya diketahui dari pengalaman para murid, khususnya dari kesaksian mereka mengenai penampakan. Kebangkitan sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci bukanlah pengalaman Yesus melainkan pengalaman para murid-Nya. Tetapi pertanyaan yang muncul ialah, adakah pengalaman itu hanyalah khayalan dan keinginan para murid, ataukah mereka sungguh-sungguh berjumpa dengan Kristus yang mulia? Yang diceritakan adalah pengalaman para murid, namun menurut kesaksian mereka pengalaman itu berupa suatu perjumpaan dengan Kristus yang mulia. Bagaimana perjumpaan semacam itu dapat digambarkan atau dipahami? Tegasnya pertanyaan mengenai penampakan berbunyi: Apa dasar pengalaman para murid?

Kalau kisah-kisah penampakan diteliti dengan saksama, jelaslah bahwa menurut kisah itu:

  1. Inisiatif selalu datang dari Yesus sendiri: Ia menampakkan diri; sebaliknya, dari pihak para murid,
  2. penampakan selalu dialami sebagai “mengenal kembali” (paling jelas dalam Yoh 21:12).

Khususnya dalam khotbah-khotbah Kisah Para Rasul selalu ditekankan bahwa Tuhan yang mulia, yang menampakkan diri, sama dengan Yesus dari Nazaret yang wafat di kayu salib (bdk. Kis 2:23-24.36; 3:13; 4:10; 5:30; 10:39-40; 13:29- 30). Namun iman akan Kristus yang mulia tidak sama dengan kepercayaan kepada nabi dari Nazaret. Pengalaman akan kebangkitan merupakan suatu pengalaman baru (dan bukan hanya penerusan dari pengalaman yang lama). Pengakuan akan kebangkitan justru berarti bahwa bagi mereka perjumpaan dengan Tuhan yang mulia lain daripada pertemuan dengan Yesus waktu berjalan bersama mereka di Palestina.

Oleh karena itu, bagaimana dapat dipahami perjumpaan dengan Tuhan yang mulia itu? Pertanyaan ini tidak berbeda dengan pertanyaan “Bagaimana manusia dapat menerima wahyu dari Allah?” Perjumpaan dengan Tuhan yang mulia berbeda dengan pertemuan dengan Yesus dahulu, karena Yesus sekarang sudah masuk ke dalam dunia ilahi. Dapatkah manusia yang fana berkomunikasi dengan dunia ilahi itu? Tentu dapat, sebab seandainya tidak bisa, segala wahyu dan iman pada dasarnya tidak mungkin. Perjumpaan dengan Tuhan yang mulia pada dasarnya tidak lain daripada wahyu Allah kepada manusia. Maka dalam Kis 10:40 juga dikatakan: “Allah berkenan bahwa Ia menampakkan diri’ (harfiah: “Allah memberi bahwa Dia menjadi tampak“). Penampakan merupakan pewahyuan dari Allah, bahwa Yesus yang di dunia ini dialami telah mati, ternyata hidup pada Allah. Itulah sebabnya dalam Kitab Suci biasanya tidak dikatakan “Kristus bangkit”, melainkan “Allah membangkitkan Dia” (Rm 10:9 dll.). Artinya sesuai dengan Kis 10:40, Allah menyatakan bahwa Yesus hidup.

Menurut keyakinan Yahudi, kematian Yesus di salib yang mengerikan itu tanda bahwa Allah tidak menerima Yesus (lagi). Dasar pandangan seperti itu adalah Perjanjian Lama. Kematian seorang muda, lebih lagi kematian yang begitu mengerikan seperti wafat Yesus, dilihat sebagai hukuman dari Allah (bdk. Ul 21:23; Ams 10:27; Ayb 22:16; 36:6.14).

Oleh karena itu, kalau Allah (menurut anggapan mereka) dengan jelas menyatakan penolakan-Nya terhadap Yesus, maka hanya Allah-lah yang dapat membatalkan kesan itu dengan menyatakan Yesus hidup. Oleh karenanya tidak dikatakan bahwa Yesus bangkit (sebab itu mungkin tidak sesuai dengan kehendak Allah), tetapi “Allah membangkitkan Yesus”. Masalahnya bukanlah apakah Yesus bangkit dengan kekuatan-Nya sendiri atau dengan bantuan entah dari mana. Masalahnya malah bukan kebangkitan, melainkan penerimaan oleh Allah. Kebangkitan berarti bahwa Yesus hidup pada Allah. Penampakan tidak lain daripada pewahyuan mengenai hidup Yesus yang baru itu. Ketika manusia berkata bahwa Yesus mati, pada waktu itu Allah menyatakan bahwa Ia hidup, bukan dengan hidup yang biasa, seperti manusia-manusia yang lain. Yesus hidup dengan hidup dari Allah sendiri. Hal itu hanya dapat diketahui oleh manusia, kalau Allah mewahyukannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s