Sekularisme dan Sekularisasi


Pada masa lampau humanisme sering diartikan sebagai pandangan hidup, yang menempatkan manusia di pusat dan menyingkirkan Allah dari dunia. Dewasa ini pun ada orang yang merasa bahwa tidak ada tempat bagi Tuhan di dunia. Yang riil dan berarti hanyalah dunia, semua yang lain adalah khayalan manusia. Sikap ini disebut sekularisme. Memang orang beriman juga mengakui bahwa “langit kepunyaan Tuhan, dan bumi telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia” (Mzm 115:16). Tetapi dengan demikian tidak dilupakan bahwa Tuhanlah yang “menjadikan bumi dan menciptakan manusia di atasnya” (Yes 45:12; lih. Yer 27:5). Manusia ditempatkan di bumi “untuk mengusahakan dan memeliharanya” (Kej 2:15), tidak untuk membuatnya menjadi pusat kehidupannya. Asas dan dasar kehidupan manusia adalah keyakinan bahwa

“Orang tercipta untuk
memuji, menaruh hormat dan mengabdi Allah Tuhan kita
dan – melalui itu – menyelamatkan jiwanya;
dan hal-hal lain di muka bumi
tercipta demi orang,
dan untuk membantunya dalam mengejar tujuan
yang untuknya ia tercipta.
Dari pada itu disimpulkan, bahwa orang
harus memanfaatkan hal-hal itu hanya
sejauh membantunya untuk tujuannya;
dan harus meninggalkan hal-hal itu hanya
sejauh untuk itu menghalang-halanginya” (St. Ignatius Loyola).

Pujian, hormat, dan pengabdian kepada Tuhan pertama-tama dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, lebih khusus dalam kasih kepada sesama. Itu tidak berarti bahwa manusia juga tidak secara khusus mengungkapkan sikap itu dalam bentuk yang khusus, yang lazim disebut ibadat dan agama atau bidang sakral. Hanya saja, janganlah agama dan kebaktian dijadikan pokok kehidupan. Itu tidak sesuai dengan kehendak Kristus. Oleh karena itu, bisa terjadi bahwa bidang sakral perlu dikurangi dan dibuat sekular kembali. Itu yang disebut desakralisasi atau sekularisasi. Sekularisasi ini tidak sama dengan sekularisme, sebab tujuannya bukanlah menghapus segala bentuk sakral, tetapi hanya kelebihannya.

Sekularisasi perlu dibedakan dari profanasi. Yang terakhir ini berarti bahwa sesuatu yang sakral (dikhususkan untuk agama) diperlakukan seolah-olah barang profan (bukan-sakral). Maka profanasi dengan sengaja tidak mau mengakui yang sakral. Sebaliknya sekularisasi merupakan suatu proses sosial yang mau membatasi bidang sakral pada proporsi yang sebenarnya. Misalnya, para imam yang memakai jubah tidak sebagai pakaian biasa, tetapi hanya kalau benar-benar menjalankan tugas kegerejaan. Tentu saja dengan sendirinya timbul persoalan: Bagaimana menentukan batas kesakralan yang wajar? Dalam hal ini sekularisasi tidak jarang melampaui batas, karena mau menghapus (hampir) seluruh bidang sakral dan dengan demikian jatuh ke dalam sekularisme. Pada masa lampau, khususnya di Barat, “sekularisasi” sering dimaksudkan rebutan kuasa antara Gereja dan negara, yang di dalamnya lembaga dan milik Gereja disita oleh negara. Memang harus diakui bahwa peranan sosial agama tidak selalu dan di mana-mana sama. Maka dalam perkembangan sejarah, suatu proses sekularisasi sering tidak dapat dihindarkan, bahkan kadang-kadang malah diperlukan. Namun dari pihak lain tidak dapat disetujui pendapat bahwa agama hanyalah soal batin dan pribadi melulu. Ada segi sosialnya juga sehingga, oleh karena itu, agama mempunyai tempat dalam masyarakat.

Memang perlu dihindari bahwa segala perhatian dipusatkan pada agama saja, seolah-olah iman dan agama sama. Padahal agama, dengan segala peraturan dan kegiatannya, hanya merupakan sarana dan jalan memperkuat dan menyokong iman, yang harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata. Yang pokok bukan agama, melainkan iman sebagai sikap dan orientasi dasar. Yang penting bukan iman yang diungkapkan, melainkan iman sebagai dasar dan dorongan hidup yang nyata, iman sebagai sikap dasar, iman sebagai sumber kehidupan.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s