Agama Kristen


Yang pokok dalam agama Kristen tentu Yesus Kristus sendiri, yang tidak hanya diimani sebagai nabi, utusan Allah, tetapi sebagai “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:4). Maka iman Kristen mengenai Yesus, Anak Allah, berbeda sama sekali dengan iman orang muslim terhadap nabi Muhammad atau orang Budha terhadap Sang Budha. Dengan demikian, paham Kristen mengenai tradisi dan Kitab Suci berbeda. Tradisi pertama-tama mengenai Yesus yang diakui sebagai Kristus, Tuhan. Tradisi berpusat pada pribadi Yesus sendiri, dan dalam kerangka itu tidak hanya meneruskan fakta kehidupan Yesus, melainkan juga ajaran-Nya. Tradisi memang berpangkal dan berasal dari Yesus, tetapi tidak dirumuskan dan dituliskan oleh Yesus sendiri. Tradisi dan Kitab Suci merupakan pengungkapan iman akan Yesus. Maka di dalamnya juga terungkap sikap manusia yang benar di hadapan Allah dan sesama. Di dalam Tradisi termuat banyak unsur etis atau moral juga. Tetapi itu pun dalam rangka iman akan Yesus. Iman akan Yesus berarti keyakinan bahwa “Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah” (2Kor 1:20); “di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain” (Gal 3:14). Karena itu Tradisi tidak hanya berbicara mengenai Yesus, tetapi juga mengenai “berkat Abraham” itu serta seluruh sejarah yang berhubungan dengannya. Tradisi merupakan kesaksian mengenai tindakan penyelamatan Allah, mulai dengan panggilan Abraham. Seluruh sejarah bangsa Yahudi sampai zaman Yesus termasuk Tradisi. Tradisi Kristen sebenarnya tradisi Yahudi-Kristiani, sebab Yesus dan para rasul-Nya adalah orang Yahudi, yang hidup dari tradisi Yahudi. Dengan demikian Tradisi ini kuno sekali, mulai dengan panggilan Abraham, yang kiranya terjadi sekitar tahun 1850 SM. Tetapi dengan kedatangan Yesus, khususnya dengan wafat dan kebangkitan-Nya, sejarah keselamatan Allah mencapai puncak dan kepenuhannya. Oleh karena itu Tradisi sampai dengan Yesus, khususnya sejauh termuat di dalam Kitab Suci, dengan tegas dibedakan dari Tradisi sesudah-nya, yang hanya menerangkan dan menanggapi peristiwa Yesus.

Tradisi tidak hanya berupa ajaran. Bahkan, yang paling penting adalah kehidupan umat sendiri, yang meneruskan diri dari satu angkatan kepada angkatan yang lain. Maka di samping ajaran, Tradisi berarti adat kebiasaan, baik dalam ibadat maupun dalam hidup bersama. Bahkan organisasi jemaat juga termasuk di dalamnya. Boleh dikatakan bahwa Tradisi sebenarnya tidak lain daripada komunikasi iman jemaat, sepanjang masa. Komunikasi iman itu tidak terbatas pada pengungkapan iman saja, baik dalam ajaran maupun dalam ibadat, tetapi juga menyangkut perwujudan iman dalam hidup yang konkret. Yang paling penting ialah bahwa iman sendiri diakui sebagai anugerah Allah. Maka yang membuat Tradisi dan juga umat bukanlah manusia, melainkan Allah yang memanggilnya. Umat sendiri diimani sebagai umat Allah, yang digerakkan dan dipersatukan oleh Roh Allah. Memang umat itu manusia yang dipanggil Allah dan oleh karena itu umat juga mempunyai struktur dan organisasi insani. Dalam hal ini ada perbedaan antara orang Kristen Protestan dan orang Kristen Katolik, sebab yang Katolik melihat badan pengurus atau hierarki Gereja, bukan hanya sebagai struktur organisatoris saja, melainkan sebagai pelaksanaan insani dari pimpinan ilahi. Tugas dan wewenang yang diberikan Kristus kepada dewan para rasul, sekarang diwujudkan dalam dewan para uskup, yang dipimpin oleh paus dan dibantu oleh para imam dan diakon. Dengan demikian umat memang mempunyai organisasi sendiri, lepas dari struktur masyarakat umum. Gereja dan negara terbedakan. Gereja sendiri, di samping struktur fungsional organisatoris itu, juga mempunyai aneka struktur kharismatis, yang terwujudkan terutama dalam hidup membiara. Dengan demikian ternyata ada banyak kelompok dan gerakan di dalam kalangan Gereja sendiri. Semua itu mengabdi kepada kehidupan bersama yang berasal dari Roh Kristus. Dengan pembaptisan orang diterima dalam umat itu, dan dalam perayaan Ekaristi kesatuan umat mendapat bentuk ibadat yang nyata.

Ibadat Kristen tidak terbatas pada perayaan Ekaristi atau Perjamuan Tuhan. Penerimaan di dalam jemaat atau pengangkatan sebagai pemimpinnya merupakan upacara yang penting. Peristiwa pokok kehidupan, seperti kelahiran, perkawinan dan sakit serta kematian mempunyai hubungan langsung dengan kehidupan jemaat. Begitu juga pertobatan dan perutusan. Di dalam upacara atau perayaan itu yang paling penting ialah puji-syukur kepada Allah, sebab keselamatan tidak dikerjakan oleh manusia sendiri, melainkan merupakan anugerah Tuhan. Maka tanggapan iman manusia dinyatakan pertama-tama dalam ucapan syukur dan terima kasih. Oleh karena itu ibadat Kristen tidak pernah dapat dilepaskan dari pewartaan karya keselamatan Allah. Dalam hal ini kelihatan juga suatu perbedaan antara Katolik dan Protestan. Di kalangan Protestan lebih dipentingkan pewartaan, di dalam Gereja Katolik amat diperhatikan perayaan. Tetapi baik perayaan maupun pewartaan bertujuan peneguhan iman. Sebab “manusia dibenarkan karena iman” (Rm 3:28). Iman itu tidak hanya diakui dan dirayakan bersama-sama. Ibadat dan doa pribadi juga mempunyai tempat yang amat penting dalam Tradisi Kristen, sebab akhirnya iman tidak hanya diungkapkan, tetapi terutama diwujudnyatakan dalam hidup pribadi setiap orang beriman.

Oleh karena itu, ibadat dapat dan harus dijalankan di mana-mana. Namun ada tempat ibadat khusus, yang juga disebut gereja. Di dalam gedung itu umat “berkumpul sebagai jemaat” (1Kor 11:18). Maka gereja dipandang sebagai tempat yang suci, bukan karena gedung itu sendiri suci, tetapi karena dikhususkan untuk pertemuan umat dengan Tuhan. Begitu juga banyak hal lain yang dikhususkan untuk ibadat dihormati sebagai hal yang suci, tetapi tidak pernah barang atau orang atau juga patung dan gambar dianggap suci dalam dirinya sendiri, melainkan hanyalah karena hubungannya dengan iman akan Tuhan. Sama halnya dengan pemimpin dan petugas ibadat. Yang diangkat menjadi pemimpin jemaat, juga berfungsi sebagai pemimpin ibadat. Tetapi ibadat sendiri merupakan ungkapan iman seluruh umat. Maka masih ada banyak petugas yang lain, dan pada dasarnya seluruh umat terlibat di dalamnya, sebab ibadat bukan hanya ibadat perorangan yang dilakukan bersama di tempat yang sama, terpimpin oleh orang yang sama. Ibadat Kristen itu benar-benar perayaan bersama, yang di dalamnya masing-masing orang mempunyai tugas dan peranan. Tidak ada pangkat dan derajat, semua adalah saudara dalam Tuhan. Semua disucikan bukan oleh upacara atau kata-kata manusia, tetapi oleh Roh Allah yang mempersatukan semua dalam iman yang sama.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s