Makna Agama


Agama merupakan pengungkapan iman dalam arti luas. Dalam agama iman mendapat bentuk yang khas, yang memampukan orang beriman mengkomunikasikan imannya dengan orang lain, baik yang beriman maupun yang tidak. Dalam agama orang memperlihatkan sikap hatinya di hadapan Allah. Sikap manusia di hadapan Allah antara lain tampak dalam sikap dan tanggung jawabnya terhadap alam semesta, yang dirumuskan oleh Konsili Vatikan II sebagai berikut:

“Bila manusia dengan karya tangannya maupun melalui teknologi mengelola alam, supaya menghasilkan buah dan menjadi kediaman yang layak bagi segenap keluarga manusia, dan bila ia dengan sadar memainkan peranannya dalam kehidupan kelompok-kelompok sosial, ia melaksanakan rencana Allah yang dimaklumkan pada awal mula, yakni menaklukkan dunia serta menyempurnakan alam ciptaan, dan mengembangkan dirinya. Sekaligus ia mematuhi perintah Kristus yang mulia untuk mengabdikan diri kepada sesama.”

Selanjutnya, Konsili menerangkan bahwa tugas pokok ini disempurnakan manusia dengan mengembangkan kebudayaan:

“Bila manusia menekuni pelbagai ilmu, seperti filsafat, sejarah serta ilmu matematika dan fisika, dan mengembangkan kesenian, ia dapat berjasa sungguh besar, sehingga keluarga manusia terangkat kepada nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan serta kepada suatu visi yang bernilai universal dan dengan demikian disinari dengan lebih terang oleh Kebijaksanaan yang mengagumkan, yang sejak kekal ada pada Allah.”

Dengan mengembangkan kebudayaan, manusia diangkat ke nilai-nilai kehidupan yang tinggi, yakni kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Perkembangan ini juga merupakan langkah ke arah kesempurnaan yang lebih besar lagi, yakni “beribadat kepada Sang Pencipta dan berkontemplasi”.

“Dengan demikian jiwa manusia, yang semakin dibebaskan dari perbudakan harta-benda, dapat dengan lebih leluasa diangkat kepada ibadat dan kontemplasi Sang Pencipta. Bahkan, atas dorongan rahmat, ia dipersiapkan untuk mengenal Sabda Allah, yang sebelum menjadi daging untuk menyelamatkan dan merangkum segala sesuatu dalam dirinya sebagai Kepala, sudah berada di dunia sebagai ‘Terang sejati, yang menyinari setiap orang’ (Yoh 1:9)” (GS 57).

Tentu tidak dengan sendirinya manusia diangkat kepada ibadat, kontemplasi, dan “mengenal sabda Allah”. Itu karya rahmat. Tetapi semua itu juga tidak lepas dari kebudayaan dan perkembangan manusia. Agama terjalin erat dengan kebudayaan. Untuk mengenal dan menyembah Allah, manusia perlu mengembangkan pikiran dan kemampuan mengungkapkan imannya. Oleh karena itu umat beriman “meminjam dari adat-istiadat dan tradisi-tradisi para bangsa, dari kebijaksanaan dan ajaran mereka, dari kesenian dan ilmu pengetahuan mereka, segala sesuatu, yang dapat merupakan sumbangan untuk mengakui kemuliaan Sang Pencipta, memperjelas rahmat Sang Penebus, dan mengatur hidup Kristiani dengan seksama” (AG 22). Sikap orang beriman terhadap Allah, khususnya iman, pengharapan dan kasih, diungkapkan dalam bahasa dan kebudayaan yang ada.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s