Iman dan Agama


Iman, lebih-lebih kalau telah berkembang menjadi pengharapan dan kasih, merupakan suatu sikap “penyerahan diri seutuhnya kepada Allah” (DV 5). Dalam hidup manusia sikap batin itu harus dinyatakan keluar, pertama-tama dalam kasih kepada sesama. Tetapi tidak hanya itu. Ketika Musa berhadapan dengan Tuhan dalam nyala api yang keluar dari semak berduri, didengarnya suara yang berkata, “Jangan datang dekat-dekat, tanggalkanlah kasut dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri adalah tanah yang kudus” (Kel 3:5). Tuhan adalah kudus, dan tempat Tuhan berkenan bertemu dengan manusia, itu pun kudus. Bahkan segala sesuatu yang dikhususkan bagi Tuhan, disebut kudus, Maka ada tempat yang kudus, juga waktu yang kudus, bahasa yang kudus, pakaian kudus, alat kudus, bahkan orang yang kudus, yakni orang yang secara khusus diperuntukkan bagi pelayanan Tuhan. Perjanjian Lama mengenal peraturan rinci mengenai barang dan orang, yang dikhususkan bagi Tuhan dan oleh karenanya disebut kudus (lih. Kel 25-31; Im 17-26). Ini bukan sesuatu yang hanya terdapat pada Israel. Semua bangsa dan kebudayaan mempunyai bidang kudus ini, yang biasanya disebut bidang agama atau juga bidang sakral.

Perlu dicatat bahwa garis pemisah antara yang sakral dan yang profan tidak selalu jelas. Dalam agama Kristen, seperti juga dalam agama Yahudi dan Islam, garis pemisah itu cukup tajam. Tetapi dalam agama-agama lain bidang keagamaan tidak terlampau terpisah dari bidang hidup sehari-hari. Paham agama sebagai bidang yang khusus, terbedakan dari hidup yang profan, berkaitan dengan paham Allah yang transenden. Di mana lebih ditekankan imanensi Allah, di situ juga agama menjadi bagian yang lebih integral dari hidup, dan tidak terlalu dibedakan antara profan dan sakral, Namun, agama-agama itu juga mengenal tempat, waktu dan upacara, dan terutama orang yang “khusus”, guna menyatakan kebaktian kepada Allah.

Jelas sekali, bahwa yang pokok dalam agama adalah sikap batin. Agama yang bersifat lahiriah melulu, dengan sendirinya menjadi formalisme dan sering kosong, tanpa isi. Oleh karena itu yang pokok bukanlah hal-hal yang lahiriah. Namun tanpa bentuk yang nyata komunikasi iman tidak mungkin. Biarpun sikap batin paling penting, namun tanpa pengejawantahan yang jelas iman tidak sungguh manusiawi. Penghayatan iman memerlukan agama. Dalam praktik tidak ada iman tanpa agama, tetapi tentu saja bentuk agama berbeda-beda.

Perbedaan pokok berhubungan dengan sikap batin sendiri dan gambaran Allah. Kalau ditekankan keluhuran dan kedahsyatan Allah, maka agama akan mencari bentuk-bentuk yang khusus dan istimewa. Sebaliknya, kalau lebih diperhatikan Tuhan yang hadir dalam ciptaan-Nya, maka segala sesuatu dengan sendirinya sudah mempunyai warna agama. Oleh karena itu amat sulit membuat suatu definisi agama yang berlaku umum. Iman dan agama kait-mengait, dan iman tidak pernah bersifat umum.

Pada tahun 1952, dalam kerangka pembicaraan mengenai kedudukan aliran-aliran kepercayaan dalam negara dan masyarakat Indonesia. Departemen Agama pernah mengusulkan suatu definisi agama, dengan menyebut beberapa syarat-syarat mutlak, seperti: adanya nabi atau rasul, kitab suci dan pengakuan sebagai agama di luar negeri. Agama Hindu-Bali mengajukan keberatan terhadap definisi itu. Maka selanjutnya definisi itu ditarik kembali dan tidak terpakai lagi. Dalam Penpres no. 1 thn 1965 ( Undang-Undang no. 5 thn 1969) Konfusianisme disebut sebagai agama juga; tetapi kemudian tidak pernah disebut-sebut lagi. Agama “yang diakui pemerintah” ada lima: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Aliran kepercayaan juga diakui, tetapi tidak sebagai agama (sehingga juga tidak ada di bawah wewenang Departemen Agama, melainkan ditempatkan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Tetapi ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Tidak ada dua golongan agama, yang satu diakui pemerintah dan yang lain tidak, Pengakuan oleh pemerintah sebenarnya hanya berarti bahwa agama-agama itu mendapat pelayanan khusus dari Departemen Agama.

Kendatipun tidak mungkin memberikan suatu definisi umum mengenai agama, dapat disebut sejumlah gejala atau unsur yang pada umumnya didapati dalam agama-agama. Di bawah ini disebutkan lima unsur: jemaat, tradisi, ibadat, tempat ibadat, dan petugas ibadat.

1. Jemaat

Yang pertama-tama harus disebut ialah umat beragama sendiri. Umat beragama bukanlah suatu kumpulan umat yang biasa. Yang mengikat mereka bukan pertama-tama organisasi, melainkan ikatan batin. Bagaimana ikatan batin itu diterangkan atau digambarkan, berbeda pada masing-masing agama. Biasanya umat beragama merasa diri dipersatukan bukan hanya atas inisiatif atau upaya para anggota. Tuhan sendirilah yang mempersatukan mereka. Pada umumnya persatuan itu tidak untuk sesaat saja, walaupun juga dalam hal ini agama yang satu berbeda dengan yang lain. Ada yang membatasi umat pada saat perayaan, ada yang menghubungkan keanggotaan dengan seluruh hidup. Pada umumnya umat dan anggota-anggotanya dikenal, tetapi juga ada kelompok agama rahasia. Bisa juga terjadi di dalam umat sendiri ada kelompok-kelompok khusus, Semua itu berhubungan juga dengan unsur-unsur yang lain.

2. Tradisi

Unsur kedua ini luas sekali, dan mencakup beberapa unsur yang’ lain. Yang umum ialah, bahwa semua agama mempunyai sejarah. Khususnya sejarah awal, dengan tokoh-tokohnya, mempunyai arti yang khusus. Banyak agama mengenal seorang nabi atau rasul atau pendiri agama. Tetapi dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam agama-agama. Tidak semua agama menghargai dan mengakui tokoh awal itu dengan cara yang sama. Bahkan, tidak semua agama mempunyai paham sejarah yang sama. Sering kali dalam kisah awal tercampur banyak unsur mitologi, yakni ungkapan simbolis kisah awal

Salah satu unsur tradisi yang amat penting adalah ajaran yang diteruskan secara turun-temurun. Ajaran itu pada umumnya mengandung tiga bidang: ajaran keselamatan, ajaran moral, dan ajaran ibadat. Ajaran keselamatan pertama-tama mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan manusia, kemudian juga mengenai sejarah dan organisasi agama itu sendiri, serta bagaimana melalui agama orang dapat bertemu dengan Allah dan diselamatkan. Ini merupakan bagian yang khusus untuk masing-masing agama. Ajaran moral sering bersifat lebih umum, karena mengambil alih banyak unsur dari kebiasaan etis masyarakat. Sebaliknya, ajaran mengenai ibadat hiasanya amat khusus dan kadang-kadang juga dipandang sebagai yang paling pokok. Tradisi ajaran itu biasanya diteruskan tidak hanya secara lisan, tetapi juga melalui buku-buku suci. Dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam arti dan bobot yang diberikan kepada buku-buku itu.

3. Ibadat

Walaupun ibadat ada di dalam semua agama, namun khusus dalam ibadatlah nampak perbedaan antara agama. Ada yang melihat ibadat sebagai pertemuan antara Allah dan manusia. Ada juga yang membatasi ibadat pada ungkapan ketakwaan dan saling mengukuhkan dalam iman. Biasanya dalam hal ini juga ada perbedaan yang amat besar – dipakai simbol-simbol atau tanda yang khusus dalam ibadat, karena baik untuk pengungkapan iman maupun untuk tanda kehadiran Allah, pemakaian bahasa atau ekpresi yang biasa dianggap kurang memadai. Misteri Allah dan penyelamatan-Nya hanya dapat ditunjuk dengan tanda-tanda, tidak pernah dapat dirumuskan atau diungkapkan secara penuh oleh manusia

Ibadat adalah kegiatan manusia. Cara umat mengambil bagian dalam ibadat itu, berbeda dari satu agama ke agama yang lain. Biasanya ada petugas agama yang memimpin ibadat. Tetapi baik peranan mereka maupun partisipasi umat yang lain, amat khusus bagi masing-masing agama. Peraturan ibadat juga amat berbeda-beda. Ada ibadat yang lebih bercorak upacara dengan peraturan yang ketat. Ada juga yang lebih bersifat perayaan dengan warna spontan dan bahkan kharismatis. Semua itu tidak hanya berhubungan dengan sikap batin para peserta, tetapi juga dengan “ajaran” mengenai keselamatan dan ibadat. Ada yang lebih menekankan pengalaman ‘para peserta, ada yang lebih mementingkan pengabdian serta kewajiban.

4. Tempat Ibadat

Ada agama yang di dalamnya arti dan bobot ibadat langsung berhubungan dengan tempat, misalnya pura dalam agama Hindu. Dalam agama Kristen atau Islam, tempat ibadat bersifat sekunder. Orang dapat melakukan ibadat di mana-mana. Namun itu tidak berarti bahwa dengan demikian tempat ibadat tidak dipandang sebagai tempat yang suci. Sebaliknya, karena merupakan tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan, tempat ibadat dipandang sebagai tempat yang suci. Juga kalau ibadat tidak langsung dikaitkan dengan tempat-tempat tertentu, semua agama mempunyai tempat yang dipandang sebagai “bait Allah”, dalam arti mana pun. Di samping atau di dalam tempat itu, ada banyak hal lain yang dikhususkan juga, dan oleh karena itu dipandang sebagai barang suci pula.

5. Petugas Ibadat

Sebetulnya petugas ibadat itu suci, karena ibadat yang dilayani olehnya bersifat suci. Tetapi cukup sering urut-urutannya dibalik: petugas dipandang sebagai orang yang mempunyai daya kesucian (atau kesaktian), yang dalam ibadat dibagikan kepada yang lain. Amat kerap tugas ibadat, yang sebetulnya hanya fungsi, dibuat menjadi status, sehingga orang itu diberi tempat dan kehormatan yang istimewa. Oleh karena itu tidak jarang fungsi, dan terutama kuasa petugas itu diperluas meliputi bidang-bidang lain, sehingga dari petugas ia menjadi pemimpin agama dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam hal ini juga ada perbedaan-perbedaan besar antara para petugas ibadat dari pelbagai agama.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s