Allah dan Agama


Makna hidup itu didapat dalam penghayatan hidup itu sendiri; penghayatan hidup dalam membuka diri terhadap Yang Transenden, membangun solidaritas dengan sesama, mengolah dan memelihara dunia benda serta alam semesta, dan dengan demikian membangun diri sendiri.

Kita mengetahui bahwa di dalam masyarakat majemuk tidak ada satu sistem sosial untuk semua dan juga tidak ada satu agama saja. Pilihan atas agama dan penghayatannya ditentukan oleh keinsafan dan tanggung jawab pribadi setiap orang. Namun diperlukan kerjasama yang nyata dengan orang dan golongan lain di dalam masyarakat, sebab hanya dalam suasana kerja sama dan saling menghormati terjaminlah kebebasan agama, yang memungkinkan setiap orang mengabdi Tuhan menurut keyakinan hatinya sendiri. Tugas dan wewenang negara dan pemerintah tidak terbatas pada kontrol dan pengawasan saja, tetapi terutama menciptakan suasana yang menjamin kebebasan beragama berdasarkan martabat manusia. Maka oleh ketetapan MPR No. III / MPR /1978 tentang penghayatan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, dijelaskan sebagai berikut:

  1. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

Tampak sekali bahwa penjelasan mengenai sila pertama tidak pertama-tama menyangkut Tuhan, tetapi terutama agama dan kepercayaan. Lebih khusus lagi, pokok perhatiannya ialah kerukunan umat beragama. Dalam Pancasila terungkap pengakuan bahwa kepercayaan religius bangsa Indonesia, khususnya sebagaimana dinyatakan dalam bentuk agama, diterima sebagai nilai sosial dan oleh karena itu akan dilindungi oleh negara. Pancasila tidak langsung berbicara mengenai Tuhan sendiri, melainkan mengenai sikap manusia terhadap Tuhan. Pancasila tidak hanya mengakui kebebasan beragama, tetapi juga pluralisme agama, sebab tidak setiap orang mengenal dan mengakui Tuhan dengan cara yang sama.

Mengenai hal ini, pada tahun 1983 Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, dahulu MAWI) memberikan penjelasan sebagai berikut:

“Gereja memandang perkembangan berbagai agama di dalam suatu negara sebagai hal yang wajar, yang tidak perlu menimbulkan kerisauan …. Cinta kasih dan kepatuhan kepada Tuhan tak terlepaskan dari cinta kasih kepada sesama manusia dan tanah air” (Umat Katolik Indonesia dalam Masyarakat Pancasila, no. 6).

Khususnya berhubungan dengan kerukunan umat beragama, KWI berkata:

“Gereja dan pimpinan serta umatnya menyadari, bahwa penyiaran agama merupakan suatu ciri setiap agama universal. Ciri ini dapat menimbulkan masalah yang peka, Memang dapat dimengerti bahwa para beriman mempunyai niat yang luhur, untuk melaksanakan tugas ilahi dan mengikut sertakan sesama manusia dalam menikmati kebaikan dan kebenaran Tuhan yang mereka alami sendiri. Demikian pula ingin memelihara orang seagama jangan sampai pindah ke agama lain (no. 38).

Jadi, ciri misioner agama-agama universal diakui demi kebaikan dan keikhlasan hidup beragama. Namun demikian, cara-cara penyiaran maupun pemeliharaan para penganut agama-agama harus wajar dan bebas dari pencemaran pertimbangan dan keuntungan duniawi mana pun. Gereja mengharapkan dari negara tidak lain dan tidak lebih daripada menciptakan suasana saling menghormati dan mengindahkan kebebasan. Dalam suasana itu setiap warga negara dan setiap umat agama dapat mengikuti dorongan hati nuraninya sesuai petunjuk Tuhan yang diimani dengan ikhlas dan tanpa takut” (no. 40).

Akhirnya, KWI memberikan pesan khusus kepada umat Katolik sebagai berikut:

“Sebagai warga negara yang beragama, pertama-tama kita mengamalkan Sila Ketuhanan Yang’ Maha Esa dengan hati yang sungguh-sungguh dan ikhlas sesuai dengan iman kita, Kita yakin harus berbuat demikian, baik karena iman kita maupun karena kewarganegaraan kita” (no. 120).

“Karen aagama menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan yang dipercayai dan diyakini, maka kita mengembangkan dan memelihara kebebasan yang bertanggung jawab supaya semua warga negara kita yang beragama dan berkepercayaan dapat menjalankan ibadah dengan leluasa sesuai dengan peraturan dan adat kebiasaan masing-masing” (no. 121).

Sehubungan dengan hal itu, ditegaskan lagi bahwa tolok ukurnya ialah martabat manusia.

“Dalam hubungan dengan hidup bermasyarakat dan bernegara ketuhanan menampakkan diri terutama bukan dalam ungkapan yang berbentuk khas keagamaan, melainkan dalam tindakan-tindakan kemanusiaan yang adil dan beradab …. Mengamalkan ketuhanan berarti memajukan kemanusiaan, membebaskan manusia dari apa saja yang menghambat perkembangan ke arah penyelesaian dan kesempurnaannya. Hal ini sesuai dengan Hukum Pokok agama yang menyatukan cinta akan Tuhan dengan cinta akan sesama (Mat 22:33-40). Cinta kasih akan Allah Bapa kita di surga dan cinta kasih akan semua putra-putri-Nya tak terpisahkan satu sama lain” (no. 124).

“Dalam hidup bernegara hal ini berarti kita orang beriman Kristiani harus menggali, menjernihkan, dan membangun nilai-nilai kemanusiaan atas dasar motivasi keagamaan. Allah Putra menjadi manusia guna menebus manusia dari segala cacat dan dosanya, maka kita para murid-Nya tidak boleh berpangku tangan. Kita harus ikut secara aktif mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur” (no. 125).

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s