Mitos tentang Indulgensi

Sumber: Terjemahan bebas dari www.catholic.com- Myths about Indulgences

Indulgensi. Kata yang mungkin sangat membangkitkan lebih banyak kesalahpahaman daripada pengajaran yang lain dalam teologi Katolik. Orang-orang yang menyerang Gereja bersandar -dan mengambil keuntungan- dari ketidaktahuan baik orang-orang Katolik dan non-Katolik atas penggunaan indulgensi.

Apa itu indulgensi? Gereja menjelaskan,”Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif (KGK 1471)“.

Langkah pertama dalam menjelaskan indulgensi adalah mengetahui apa itu indulgensi. Langkah kedua ialah menjelaskan apa yang bukan indulgensi. Berikut tujuh mitos yang umum tentang indulgensi:

Mitos 1: Seseorang dapat membeli jalan keluar dari neraka dengan indulgensi.

Tuntutan ini tidak berdasar. Karena indulgensi menghapuskan siksa-siksa sementara, indulgensi tidak dapat menghapus siksa abadi di neraka. Sekali seseorang masuk neraka, tidak satu indulgensi pun akan pernah merubah fakta itu. Satu-satunya cara untuk menghindari neraka adalah dengan memohon rahmat Tuhan yang abadi selama masih hidup. Setelah mati, nasib abadi seseorang ditentukan (Ibr 9:27).

Mitos 2: Seseorang dapat membeli indulgensi untuk dosa-dosa yang belum dilakukan.

Gereja selalu mengajarkan bahwa indulgensi tidak berlaku pada dosa-dosa yang belum dilakukan. Catholic Encyclopedia mencatat, “Indulgensi bukan sebuah izin untuk berbuat dosa, atau bukan pengampunan untuk dosa yang akan datang; keduanya tidak dapat diberikan oleh kuasa apa pun.”

Mitos 3: Seseorang dapat “membeli pengampunan” dengan indulgensi.

Definisi indulgensi mengisyaratkan bahwa pengampunan sudah terjadi:” Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni”. Indulgensi tidak mengampuni dosa. Indulgensi berkaitan dengan siksa-siksa(hukuman) yang masih harus dijalani setelah dosa-dosa diampuni.

Mitos 4: Indulgensi diciptakan sebagai cara Gereja mengumpulkan uang.

Indulgensi berkembang dari refleksi atas sakramen tobat. Indulgensi adalah sebuah cara memperpendek penebusan dari disiplin sakramental dan telah digunakan selama berabad-abad sebelum kemunculan masalah yang berkaitan dengan uang.

Mitos 5: Indulgensi akan memperpendek waktu di Purgatorium oleh sejumlah hari yang tetap.

Jumlah hari yang dipakai berkait dengan indulgensi merupakan referensi terhadap periode penebusan yang mungkin seseorang jalani selama hidup di bumi. Gereja Katolik tidak mengklaim mengetahui tentang berapa lama di Purgatorium pada umumnya, sedikit banyak dalam kasus orang tertentu.

Mitos 6: Seseorang dapat membeli indulgensi.

Konsili Trent memulai perubahan besar pada praktek pemberian indulgensi, dan karena penyimpangan-penyimpangan sebelumnya,”tahun 1567 Paus Pius V membatalkan semua pemberian indulgensi yang menyertakan biaya dan transaksi keuangan lainnya”(Catholic Encyclopedia). Aksi ini membuktikan keseriusan Gereja untuk menghilangkan penyimpangan dari pelaksanaan indulgensi.

Mitos 7: Seseorang dulu dapat membeli indulgensi

Orang tidak pernah dapat “membeli” indulgensi. Skandal keuangan yang menyertai indulgensi, skandal yang memberikan Martin Luther alasan untuk kesesatannya, melibatkan derma-indulgensi yang memberikan derma untuk beberapa yayasan atau dana amal yang digunakan sebagai kesempatan untuk memberi indulgensi. Tidak ada penjualan indulgensi secara ikhlas. Catholic Encyclopedia menyatakan, “Mudah untuk melihat bagaimana penyimpangan merambat masuk. Di antara karya-karya baik yang mungkin didorong dengan kondisi yang dibuat dari sebuah indulgensi, sedekah akan secara alamiah diadakan pada suatu tempat yang mencolok… Baik untuk mengamati bahwa dalam tujuan-tujuan ini pada dasarnya tidaklah jahat. Memberikan uang untuk Tuhan atau orang miskin merupakan aksi terpuji, dan, apabila dilakukan dengan motif yang benar, tentu itu akan dihargai.”

Mampu menjelaskan ketujuh mitos ini akan menjadi satu langkah besar untuk menolong orang lain dalam memahami indulgensi.

Nantikan tulisan mengenai “Memahami lebih jauh tentang indulgensi” pada tulisan yang akan datang.

Salam.

Salib yang harus kita pikul

Ada pertanyaan yg sering ditanyakan seperti ini : “Yesus mati sekali dan untuk semua, untuk semua orang. Masalah atau kesulitan dalam hidup kita mungkin sebenarnya berasal dari sifat atau kondisi manusia kita. Oleh karena itu jika ada mengatakan bahwa Tuhan memberi kita salib yang harus kita pikul adalah pernyataan yang keliru; karena selain pernyataan itu tidak alkitabiah juga mengerdilkan pengorbanan Yesus di Kalvari. Bahasa kasarnya.. Yesus sudah berkorban memikul salib hingga wafat disalibkan, namun mengapa kita masih memikul salib juga? Apakah kita menganggap pengorbaan Yesus tidak cukup?”

jawab:

Kita sebagai orang kristen, dan khususnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik bisa menjawab sebagai berikut dengan beberapa poin:

1) Siapa bilang pernyataan bahwa kita harus memikul salib tidak Alkitabiah? Lalu bagaimana dengan ayat ini?

“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)”

2) Meskipun benar bahwa masalah dan kesulitan dalam hidup kita berasal dari kondisi kita sebagai manusia, masalah dan kesulitan itu diizinkan oleh Allah karena dengan semua masalah tersebut mempunyai daya dorong untuk menyesuaikan diri kita agar lebih sempurna dan dekat kepada Allah. Memikul salib kita masing-masing bukanlah hal yang keliru atau bertentangan dengan pengorbanan Yesus yang memikul salib-Nya, melainkan sebagai usaha kita (yang tidak dapat dibandingkan dengan  pengorbanan Yesus) untuk menjadi satu dengan Yesus dalam cinta seperti yang telah Yesus tunjukkan kepada kita dalam jalib salib. Kita sebagai manusia mengekspresikan cinta yang paling luhur melalui pengorbanan, sesuai dengan yang ditunjukkan berulang kali di dalam Kitab Suci.

Aplikasi Doa Rosario di Laudate (Aplikasi Android)

Di kalangan umat Katolik, doa Rosario adalah rangkaian doa dasar yang sudah biasa didoakan. Namun tidak bisa disangkal bahwa masih ada juga umat Katolik yang belum dapat merangkaikan untaian doa-doa tersebut dengan lengkap dan mudah, salah satunya adalah saya sendiri. Karena saya kurang biasa melakukan doa Rosario, dan juga kurang mantapnya ingatan untuk mengurutkan doa-doa tersebut maka saya mencoba mencari-cari aplikasi doa Rosario. (Sebenarnya doa Rosario bisa dengan mudah ditemukan di buku Madah Bakti, Puji Syukur, dan sebaiknya menggunakan Rosario untuk membantu mendaraskan doa Rosario.) Berikut saya perlihatkan sekilas mengenai aplikasi Laudate untuk doa Rosario dan bagaimana mengatur agar aplikasi tersebut agar bisa digunakan dengan bahasa Indonesia. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

silahkan klik gambar untuk melihat lebih jelas

 

Sekilas mengenai Jenis aliran kepercayaan

Secara sosiologi kita dapat memilah berbagai agama yang ada dengan membedakan jenis kepercayaan yang ada di dalam setiap agama. Jenis Kepercayaan dalam suatu agama bukanlah membedakan antara agama, melainkan membedakan yang ada di dalam setiap agama. Berikut adalah jenis-jenis kepercayaan:

jenis-kepercayaan

  1. Agnostik bersebelahan dengan Aliran kepercayaan. Dimana pihak Agnostik akan berprinsip bahwa “Karena tidak tahu akan adanya atau tidak adanya Dewa/Tuhan” maka mereka tidak memilih sebagai pihak yang Percaya. Dan di lain pihak, Aliran kepercayaan mempunyai prinsip bahwa “Karena mengetahui sesuatu informasi, dan mengklaim bahwa dengan mengetahui informasi tersebut” maka mereka memilih sebagai pihak yang percaya. Percaya yang dimaksud di sini adalah percaya bahwa tidak adanya Tuhan/Dewa, atau percaya bahwa adanya Tuhan/Dewa.
  2. Di dalam jenis Aliran Kepercayaan ada Ateisme bersebelahan dengan Teisme. Dimana pihak Ateisme percaya dan berprinsip bahwa “Tidak ada Tuhan/Dewa”. Sedangkan Teisme percaya dan berprinsip “Ada Tuhan/Dewa”.
  3. Di dalam jenis kepercayaan Teisme dapat dibedakan 3 pihak yang bersebelahan yaitu (1) Kepercayaan yang kabur (tidak jelas), (2) Politeisme, (3) Monoteisme.(1) Kepercayaan yang kabur (tidak jelas) percaya bahwa ada semacam Dewa/Tuhan namun informasi yang mereka miliki kurang tegas, dan jelas.
    (2) Politeisme pecaya bahwa adanya beberapa Dewa/Tuhan yang berbeda-beda.
    (3) Monoteisme percaya bahwa ada satu Tuhan.
  4. Di dalam jenis Monoteisme (secara besar), dapat dipilah secara lebih rinci terdapat 2 (dua) yaitu Panteisme dan Monoteisme yang sebenarnya. Panteisme percaya adanya satu Tuhan dan Tuhan = Segala Makhluk di Dunia, dan Segala Makhluk di Dunia = Tuhan, dan Tuhan tersebut imanen tetapi tidak transenden. Sedangkan Monoteisme yang sebenarnya atau dikenal juga dengan Supranaturalisme percaya ada satu Tuhan, Tuhan yang imanen dan transenden.
  5. Di dalam jenis Monoteisme yang sebenarnya, dapat dipilah lebih rinci menjadi 2 pihak yaitu Deisme dan Monoteisme (Teisme) yang berdasarkan Wahyu. Perbedaan kedua pihak ini terletak dari pemahaman interaksi Tuhan terhadap makhluk ciptaannya (manusia). Deisme mempercayai bahwa Tuhan ada dan nyata, namun tidak dapat berinteraksi dengan manusia, dan tidak mengungkapkan diri-Nya (Tuhan) kepada manusia – tidak mewahyukan diri-Nya kepada manusia. Sedangkan Monoteisme (Teisme) yang berdasarkan Wahyu mempercayai bahwa Tuhan ada dan nyata, dapat berinteraksi dengan manusia dan mengungkapkan diri kepada manusia – mewahyukan diri-Nya kepada manusia.
  6. Di dalam jenis Monoteisme yang berdasarkan Wahyu dapat dipilah lagi lebih rinci menjadi 2 (dua) yaitu Unitarianisme dan Trinitarianisme. Keduanya mempercayai ada satu Tuhan, namun Unitarianisme mempercayai Tuhan hanya mewahyukan diri-Nya kepada manusia sebagai satu pribadi dan Unitarianisme menolak bahwa Tuhan mewahyukan diri-Nya sebagai pribadi lain; sedangkan Trinitarian mempercayai Tuhan mewahyukan diri-Nya kepada manusia dengan (3) tiga tahap dan dapat dikenali ada 3 (tiga) pribadi dalam satu Tuhan, yaitu: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.

Dengan demikian ada 6 (enam) jenis kepercayaan yang non-kristen yaitu: (1) agnostikisme, (2) ateisme, (3) politeisme, (4) panteisme, (5) deisme, dan (6) unitarianisme. Dan Agama Kristen merupakan aliran kepercayaan Trinitarianisme.